Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kartu Grafis RTX 5090 di Mac Kini Bisa Berjalan Berkat TinyGPU

17 April 2026 | 18:55

Beda Air Cooler dan AC Portable Midea: Mana yang Lebih Dingin?

17 April 2026 | 17:55

Kebocoran Data Game IGRS Diselidiki Komdigi Secara Menyeluruh

17 April 2026 | 16:55
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Kartu Grafis RTX 5090 di Mac Kini Bisa Berjalan Berkat TinyGPU
  • Beda Air Cooler dan AC Portable Midea: Mana yang Lebih Dingin?
  • Kebocoran Data Game IGRS Diselidiki Komdigi Secara Menyeluruh
  • Jenis Asuransi Mobil Terbaik: Pilih All Risk, TLO, atau TPL?
  • Jadwal MPL ID S17 hari ini: Evos vs Dewa United Adu Gengsi
  • Huawei Watch GT Runner 2 Harga dan Spesifikasi Resmi Indonesia
  • iPad Air Layar OLED Segera Rilis 2027, Ini Bocoran Lengkapnya
  • Ancaman Ranjau Laut Iran Hantui Jalur Logistik Selat Hormuz
Jumat, April 17
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » 3 Fakta Mengejutkan Dampak Meteor Jatuh di Cirebon, Penjelasan Peneliti BRIN
Berita Tekno

3 Fakta Mengejutkan Dampak Meteor Jatuh di Cirebon, Penjelasan Peneliti BRIN

Olin SianturiOlin Sianturi6 Oktober 2025 | 17:08
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Dampak meteor jatuh Cirebon, Penjelasan peneliti BRIN
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Geger bola api di Cirebon! Simak 3 fakta mengejutkan tentang dampak meteor jatuh Cirebon. Penjelasan peneliti BRIN mengungkap besarnya meteor dan risiko yang dihadapi.

Warga di wilayah Cirebon, Jawa Barat, dan sekitarnya dikejutkan oleh fenomena langit yang luar biasa pada malam hari. Sebuah cahaya terang yang melesat cepat, diikuti oleh dentuman keras, sempat membuat masyarakat bertanya-tanya: benda apakah itu?

Peristiwa yang terjadi pada Minggu malam (5/10) ini segera menjadi topik hangat, memicu spekulasi di media sosial. Beruntungnya, Indonesia memiliki lembaga ahli yang sigap memberikan pencerahan ilmiah.

Baca Juga

  • Kebocoran Data Game IGRS Diselidiki Komdigi Secara Menyeluruh
  • Ancaman Ranjau Laut Iran Hantui Jalur Logistik Selat Hormuz

Advertisement

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui salah satu peneliti utamanya, mengonfirmasi bahwa insiden tersebut bukan sekadar kilat atau fenomena pesawat terbang. Peristiwa itu merupakan masuknya meteor yang cukup besar ke atmosfer Bumi.

Geger Dentuman Keras: Konfirmasi Meteor Jatuh Cirebon

Kesaksian dari berbagai pihak di Kabupaten Cirebon dan Kuningan menggambarkan sebuah bola api besar yang meluncur dengan kecepatan tinggi. Yang paling mengesankan, fenomena tersebut diiringi oleh dentuman yang begitu kuat hingga menimbulkan getaran di permukaan tanah.

Fenomena ini bukan hanya terekam oleh mata telanjang, tetapi juga berhasil ditangkap oleh kamera CCTV di beberapa lokasi. Rekaman tersebut menunjukkan kilatan cahaya yang sangat intens sebelum meredup.

Baca Juga

  • Modus Pencucian Uang Rekening Bank Pakai Kamera Virtual Marak
  • Transformasi Bisnis ke AI Picu Saham Allbirds Naik 6 Kali Lipat

Advertisement

Thomas Djamaluddin, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa BRIN, segera memberikan konfirmasi dan analisis awal mengenai insiden ini. Dalam pernyataannya, ia tegas menyimpulkan bahwa objek yang masuk tersebut adalah meteor berukuran signifikan.

Konfirmasi ini didasarkan pada dua bukti utama. Pertama, kesaksian visual yang konsisten dari masyarakat luas. Kedua, adanya data seismik yang tercatat.

Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa getaran yang menyertai fenomena tersebut terdeteksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Cirebon pada pukul 18:39:12 WIB. Ini memberikan titik waktu yang sangat presisi mengenai kapan puncak fragmentasi atau ledakan terjadi di udara.

Baca Juga

  • Penutupan Apple Store Permanen: Mal Sepi Jadi Pemicu Utama
  • Ancaman Keamanan AI Mythos Intai Perbankan, Bos Bank Siaga

Advertisement

Penjelasan Peneliti BRIN: Seberapa Besar Meteor yang Masuk?

Banyak masyarakat yang bertanya, seberapa besar ukuran meteor yang bisa menghasilkan dentuman sedahsyat itu, dan apa sebenarnya yang menyebabkan getaran tersebut?

Menurut penjelasan peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, meteor yang masuk ke atmosfer Bumi biasanya terbakar dan hancur karena gesekan. Namun, jika ukurannya cukup besar—diperkirakan beberapa meter lebarnya—ia akan menciptakan gelombang kejut (shockwave) saat melaju dengan kecepatan hipersonik.

Gelombang kejut inilah yang kita dengar sebagai dentuman dan rasakan sebagai getaran.

Baca Juga

  • Asteroid Apophis Menuju Bumi: NASA Pantau Jarak Paling Dekat
  • Strategi Satelit Internet Amazon: Akuisisi Globalstar Rp181 T

Advertisement

Ketika objek luar angkasa seperti meteor memasuki atmosfer, ia mengalami pemanasan ekstrem. Pemanasan ini menyebabkan tekanan internal yang hebat, dan pada akhirnya, objek tersebut akan pecah berkeping-keping. Proses fragmentasi ini menghasilkan ledakan udara, atau yang biasa disebut airburst.

Berdasarkan data BMKG Cirebon dan intensitas dentuman, dapat disimpulkan bahwa meteor ini tergolong besar. Fenomena ini mengingatkan kita pada peristiwa meteor Chelyabinsk di Rusia pada tahun 2013, meskipun skala dampak meteor jatuh Cirebon ini diperkirakan jauh lebih kecil.

3 Fakta Ilmiah Dampak Meteor Jatuh Cirebon yang Perlu Anda Tahu

Untuk memahami lebih dalam mengenai insiden di Cirebon ini, berikut adalah tiga fakta ilmiah penting yang dijelaskan oleh para peneliti mengenai fenomena meteor besar:

Baca Juga

  • Serangan rumah Sam Altman: Bos OpenAI Jadi Target Teror Bom
  • Penurunan Permukaan Tanah Jawa Kian Kritis, Pulau Ini Mulai Tenggelam

Advertisement

  • Dentuman Keras Adalah Sonic Boom, Bukan Ledakan di Tanah

    Dentuman yang dirasakan warga Cirebon bukanlah ledakan di permukaan bumi, melainkan efek dari gelombang kejut yang dihasilkan oleh meteor yang melaju melebihi kecepatan suara (sonic boom). Gelombang kejut ini diperkuat saat meteor mengalami fragmentasi di udara. Artinya, meskipun suaranya dahsyat, potensi kerusakan di permukaan sangat minim karena ledakan terjadi di ketinggian puluhan kilometer.

  • Sebagian Besar Meteor Sudah Habis Terbakar

    Baca Juga

    • Perlindungan Anak di Ruang Digital: TikTok Hapus 780 Ribu Akun
    • Paket Internet Gratis Korea Selatan Resmi Berlaku Bagi Warga

    Advertisement

    Meskipun ukurannya besar saat masuk, mayoritas material meteor sudah habis terbakar dan menguap menjadi debu di lapisan atmosfer. Jika ada puing yang tersisa, material tersebut biasanya berupa pecahan kecil atau meteorit yang melambat drastis karena gesekan. Inilah yang menjelaskan mengapa meski ada dentuman hebat, tidak ada laporan kerusakan serius akibat benturan material luar angkasa.

  • Indonesia Rentan Terhadap Fenomena Antariksa

    Secara ilmiah, Bumi terus menerus dihujani oleh jutaan benda kecil luar angkasa. Namun, wilayah Indonesia—yang luas dan terletak di garis khatulistiwa—memiliki populasi yang cukup padat sehingga potensi kesaksian visual terhadap benda jatuh menjadi lebih tinggi. Penjelasan peneliti BRIN menegaskan bahwa fenomena seperti ini wajar terjadi, dan sistem pemantauan BRIN terus bekerja untuk melacak objek yang berpotensi berbahaya.

    Baca Juga

    • Aturan Batas Usia Media Sosial RI Jadi Kiblat 19 Negara Dunia
    • Harga Bahan Baku Fiber Optik Melonjak, Industri Minta Insentif

    Advertisement

Pentingnya Pemantauan Benda Dekat Bumi (Near-Earth Objects)

Fenomena dampak meteor jatuh Cirebon kembali menyoroti pentingnya program pemantauan benda-benda antariksa yang dilakukan oleh BRIN.

BRIN, melalui Pusat Riset Antariksa, secara aktif memantau keberadaan Benda Dekat Bumi (Near-Earth Objects atau NEOs). Meskipun meteor yang jatuh di Cirebon tergolong objek yang muncul tiba-tiba dan sulit dideteksi jauh sebelumnya karena ukurannya yang relatif kecil (dibanding asteroid raksasa), pemantauan tetap vital.

Thomas Djamaluddin menekankan bahwa fokus utama pemantauan adalah objek-objek berukuran besar yang berpotensi menimbulkan bencana global jika menabrak Bumi. Objek berukuran beberapa meter seperti yang terjadi di Cirebon adalah bagian dari “hujan kosmik” harian yang terjadi di seluruh dunia.

Baca Juga

  • Keamanan Data di Era AI: Waspadai Serangan Siber yang Makin Canggih
  • Kebijakan PP Tunas Indonesia Jadi Acuan 19 Negara Dunia

Advertisement

Kehadiran sistem pemantauan ini memastikan bahwa, jika ada ancaman serius dari objek yang jauh lebih besar, pemerintah dan masyarakat dapat dipersiapkan jauh-jauh hari.

Kesimpulan dan Edukasi Sains

Insiden di Cirebon berhasil membangkitkan rasa ingin tahu masyarakat tentang dunia antariksa. Penjelasan peneliti BRIN memberikan ketenangan sekaligus edukasi bahwa fenomena alam ini—meskipun dramatis—adalah hal yang wajar terjadi.

Penting bagi masyarakat untuk tidak panik dan selalu mengandalkan informasi dari sumber ilmiah terpercaya seperti BRIN. Dentuman keras dan bola api tersebut adalah tanda bahwa Bumi masih terus berinteraksi dengan sisa-sisa material tata surya kita.

Baca Juga

  • Layanan internet MyRepublic Air Meluncur, Ini Harga & Kotanya
  • Kasus Sextortion di Indonesia Melonjak, Komdigi Gandeng Polri

Advertisement

Dengan adanya konfirmasi dan analisis cepat dari Thomas Djamaluddin, kita mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai dampak meteor jatuh Cirebon. Kita belajar bahwa sains mampu menjelaskan peristiwa alam yang paling mengejutkan sekalipun.

Mari kita terus dukung riset antariksa nasional, karena langit di atas kita menyimpan banyak rahasia yang perlu diungkap.

Baca Juga

  • Chip AI Sel Otak Manusia: Inovasi Startup TBC Atasi Krisis Energi
  • Ancaman Siber Model AI Mythos Picu Peringatan Darurat Global

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
bola api BRIN fenomena antariksa meteor Cirebon Thomas Djamaluddin
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous Article5 Hal Penting Soal Ancaman Ransomware Lockbit 5.0 Terbaru
Next Article 7 Langkah Cepat Jika Terima Notifikasi Apple Spyware Ini
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Kebocoran Data Game IGRS Diselidiki Komdigi Secara Menyeluruh

Ana Octarin17 April 2026 | 16:55

Ancaman Ranjau Laut Iran Hantui Jalur Logistik Selat Hormuz

Iphan S17 April 2026 | 11:55

Modus Pencucian Uang Rekening Bank Pakai Kamera Virtual Marak

Ana Octarin17 April 2026 | 06:55

Transformasi Bisnis ke AI Picu Saham Allbirds Naik 6 Kali Lipat

Iphan S17 April 2026 | 01:55

Penutupan Apple Store Permanen: Mal Sepi Jadi Pemicu Utama

Iphan S16 April 2026 | 20:55

Ancaman Keamanan AI Mythos Intai Perbankan, Bos Bank Siaga

Iphan S16 April 2026 | 16:55
Pilihan Redaksi
Elektronik

Ekosistem Jaringan Asus ProArt Hadirkan Router WiFi 7 dan Switch

Olin Sianturi15 April 2026 | 00:55

Ekosistem Jaringan Asus ProArt kini semakin lengkap dengan kehadiran dua perangkat infrastruktur terbaru yang dirancang…

Harga Mobil Sedan Toyota April 2026: Cek Daftar Lengkapnya

13 April 2026 | 09:55

Dell Pro 5 Micro Panther Lake: Mini PC Workstation Terbaru

11 April 2026 | 04:55

Flashdisk ChromeOS Flex Google: Solusi Murah Laptop Lawas

10 April 2026 | 23:55

Huawei Watch GT Runner 2 Harga dan Spesifikasi Resmi Indonesia

17 April 2026 | 13:55
Terbaru

Kebocoran Data Game IGRS Diselidiki Komdigi Secara Menyeluruh

Ana Octarin17 April 2026 | 16:55

Ancaman Ranjau Laut Iran Hantui Jalur Logistik Selat Hormuz

Iphan S17 April 2026 | 11:55

Modus Pencucian Uang Rekening Bank Pakai Kamera Virtual Marak

Ana Octarin17 April 2026 | 06:55

Transformasi Bisnis ke AI Picu Saham Allbirds Naik 6 Kali Lipat

Iphan S17 April 2026 | 01:55

Penutupan Apple Store Permanen: Mal Sepi Jadi Pemicu Utama

Iphan S16 April 2026 | 20:55
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.