Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Jadwal MPL ID S17 Hari Ini: El Clasico Evos vs RRQ Hoshi

9 Mei 2026 | 12:55

Jadwal rilis iPhone 17e Indonesia: Cek Bocoran Tanggal & Harga

9 Mei 2026 | 11:55

Samsung Galaxy Tab A9 Plus: Tablet Murah untuk Belajar

9 Mei 2026 | 10:55
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Jadwal MPL ID S17 Hari Ini: El Clasico Evos vs RRQ Hoshi
  • Jadwal rilis iPhone 17e Indonesia: Cek Bocoran Tanggal & Harga
  • Samsung Galaxy Tab A9 Plus: Tablet Murah untuk Belajar
  • Dampak Larangan Teknologi China di Uni Eropa: Rugi Rp 6.900 T
  • Harga Honda Stylo 160 Terbaru Mei 2026 dan Spesifikasinya
  • Game Paranormal Activity Batal Rilis, Paramount Stop Proyek
  • Keamanan Perangkat Mac Terbaru Tak Perlu Antivirus Tambahan
  • Tablet Belajar Advan Tab 8: Solusi Murah untuk Sekolah Online
Sabtu, Mei 9
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » 3 Ancaman Serius Drone China Bikin AS Ketakutan: Konflik Penggunaan Drone DJI
Berita Tekno

3 Ancaman Serius Drone China Bikin AS Ketakutan: Konflik Penggunaan Drone DJI

Olin SianturiOlin Sianturi23 Desember 2025 | 12:43
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Drone China ancaman keamanan AS, Konflik penggunaan drone DJI
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Pemerintahan AS harus putuskan nasib DJI. Kenapa drone China ancaman keamanan AS? Simak bagaimana konflik penggunaan drone DJI ini menyulitkan ribuan polisi!

Kisah tentang drone, teknologi canggih, dan persaingan geopolitik kembali memanas di Amerika Serikat (AS). Pemerintahan AS, yang saat itu dipimpin Donald Trump, berada di persimpangan jalan krusial terkait nasib perangkat nirawak buatan China.

Tenggat waktu yang ditetapkan menjadi penentu apakah DJI Technologies—raksasa produsen drone terbesar di dunia yang berbasis di China—akan secara resmi dinyatakan sebagai ancaman terhadap keamanan nasional AS.

Baca Juga

  • Dampak Larangan Teknologi China di Uni Eropa: Rugi Rp 6.900 T
  • Jejak Gempa Besar Gunung Ciremai Ditemukan Peneliti BRIN

Advertisement

Keputusan besar ini bukan sekadar urusan dagang biasa antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Ini adalah keputusan yang berpotensi melumpuhkan operasional ribuan lembaga keselamatan publik di Negeri Paman Sam.

Mengapa demikian? Karena drone China ancaman keamanan AS adalah narasi yang semakin kuat, padahal di sisi lain, drone-drone ini sudah menjadi tulang punggung bagi kepolisian dan dinas pemadam kebakaran di berbagai negara bagian.

Mengapa Drone China Ancaman Keamanan AS?

Isu mengenai teknologi buatan China yang digunakan di AS seringkali berujung pada kekhawatiran yang sama: potensi spionase dan kebocoran data. Dalam kasus DJI, kekhawatiran ini diperkuat oleh dominasi pasar mereka yang hampir tak tertandingi.

Baca Juga

  • Bisnis TV Samsung di China Terpuruk, Rugi Rp2,3 Triliun
  • Kapasitas Produksi Fiber Optik AI Melonjak: Nvidia Gandeng Corning

Advertisement

DJI menguasai mayoritas pasar drone sipil global, termasuk sekitar 80% pasar drone di AS. Pangsa pasar yang masif ini membuat AS sangat bergantung pada teknologi asing untuk fungsi-fungsi domestik yang vital.

Isu Spionase Data: Data yang Dikumpulkan

Kekhawatiran utama pemerintah AS adalah jenis data yang dikumpulkan oleh drone DJI. Meskipun DJI berulang kali menyatakan bahwa data penerbangan pengguna tetap bersifat pribadi, pemerintah AS khawatir akan adanya ‘pintu belakang’ atau backdoor yang memungkinkan akses bagi pemerintah China.

Data yang dimaksud sangat sensitif, terutama ketika drone digunakan oleh lembaga penegak hukum dan militer.

Baca Juga

  • PHK Sepihak Akibat Tolak Acara Kantor, Perusahaan Kalah di Pengadilan
  • Kasus Penipuan Startup Indonesia: Daftar Pendiri yang Terjerat

Advertisement

  • Data Geografis dan Pemetaan: Drone merekam lokasi, jalur penerbangan, dan citra resolusi tinggi dari infrastruktur penting AS.
  • Data Operasional: Penggunaan drone oleh polisi dan pemadam kebakaran mencakup informasi taktis mengenai respons darurat, lokasi korban, hingga investigasi kriminal.
  • Informasi Personil: Data yang dikumpulkan dapat mencakup pola kerja, waktu respons, hingga identitas personil yang mengoperasikan drone.

Jika semua data ini, atau bahkan sebagian kecilnya, rentan diakses oleh pemerintah asing, ini akan menimbulkan risiko keamanan nasional yang signifikan. Ini adalah akar utama mengapa isu Drone China ancaman keamanan AS terus menjadi perdebatan hangat.

Dominasi Pasar DJI: Ketergantungan AS

Alasan kedua AS “ketakutan” adalah dominasi pasar. Drone DJI dikenal karena kualitasnya yang superior, harga yang kompetitif, dan kemudahan penggunaannya. Alternatif drone buatan AS atau Eropa seringkali jauh lebih mahal atau belum matang secara teknologi.

Ketergantungan yang sudah terlanjur mengakar ini membuat AS rentan terhadap gangguan rantai pasokan. Jika terjadi ketegangan geopolitik yang lebih parah, China bisa saja menghentikan pasokan suku cadang atau pembaruan perangkat lunak, melumpuhkan armada drone yang digunakan oleh kepolisian AS.

Baca Juga

  • Pengalaman Mati Suri Ilmuwan NASA: Rahasia Tiga Kali Wafat
  • Kontrak Militer AI Anthropic Terancam Usai Gandeng SpaceX

Advertisement

Konflik Penggunaan Drone DJI di Lapangan

Sementara Washington sibuk berdebat mengenai ancaman spionase, ribuan petugas di garis depan sedang berhadapan dengan masalah yang lebih praktis. Mereka telah mengandalkan teknologi ini untuk menyelamatkan nyawa dan meningkatkan efisiensi kerja.

Keputusan untuk melarang atau membatasi penggunaan DJI akan memicu Konflik penggunaan drone DJI yang masif di tingkat operasional, terutama di antara lembaga keselamatan publik.

Saat ini, drone DJI digunakan untuk berbagai keperluan penting:

Baca Juga

  • Paket Roaming Haji Telkomsel: Solusi Koneksi Andal Jemaah
  • Solusi Jaringan Enterprise UKM Cybrey Resmi Hadir di Indonesia

Advertisement

  • Pencarian dan Penyelamatan (SAR): Drone dengan kamera termal (thermal imaging) sangat efektif mencari orang hilang di malam hari atau di area yang sulit dijangkau.
  • Pemantauan Kebakaran: Dinas pemadam kebakaran menggunakannya untuk memetakan penyebaran api dan mengarahkan strategi pemadaman tanpa membahayakan petugas.
  • Investigasi Kecelakaan: Polisi menggunakan drone untuk memetakan lokasi kecelakaan secara cepat dan akurat, mengurangi waktu penutupan jalan.
  • Pengawasan Kerumunan: Digunakan untuk memantau acara besar atau protes, memberikan pandangan udara yang kritis.

Melarang penggunaan drone secara mendadak akan memaksa lembaga-lembaga ini melakukan penggantian armada besar-besaran, yang memerlukan biaya fantastis dan pelatihan ulang personil.

Dilema Anggaran dan Waktu

Bagi departemen kepolisian kecil di pedesaan AS, drone DJI adalah solusi paling terjangkau. Harga unitnya relatif murah dibandingkan model militer, dan ekosistemnya sudah mapan.

Jika larangan berlaku, mereka harus mencari vendor yang disetujui pemerintah AS. Seringkali, drone yang disetujui memiliki harga tiga hingga lima kali lipat lebih mahal, menimbulkan dilema anggaran yang serius bagi pembayar pajak setempat.

Baca Juga

  • Desain layar iPhone masa depan bocor, Apple gandeng Samsung
  • Wabah Hantavirus Mematikan Serang Kapal Pesiar, Ini Faktanya

Advertisement

Selain itu, proses sertifikasi drone alternatif dan pelatihan pilot baru akan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, meninggalkan celah operasional yang berbahaya.

3 Skenario Dampak Besar Jika DJI Dilarang

Jika pemerintahan AS pada akhirnya memutuskan untuk mencantumkan DJI dalam daftar hitam keamanan nasional—seperti yang pernah mereka lakukan pada Huawei—dampak yang ditimbulkan akan bergema jauh melampaui batas-batas industri teknologi.

Berikut adalah 3 Ancaman Serius yang harus dipertimbangkan oleh Washington sebelum mengambil keputusan drastis:

Baca Juga

  • Paket Roaming Haji Indosat 2026: Daftar Harga IM3 dan Tri
  • Modus Penipuan Telegram Mini Apps Incar Rekening HP Android

Advertisement

1. Dampak Operasional Keamanan Publik

Skenario terburuk adalah terganggunya operasi darurat. Lembaga kepolisian dan pemadam kebakaran mungkin terpaksa mengandangkan armada drone mereka sambil menunggu pengganti yang disetujui.

Ini secara langsung akan mengurangi kemampuan mereka dalam misi pencarian, penyelamatan, dan pemantauan bencana. Dalam konteks di mana setiap detik berharga, hilangnya alat penting ini bisa berakibat fatal.

2. Peningkatan Ketegangan Perdagangan AS-China

Pelarangan DJI akan dianggap oleh Beijing sebagai eskalasi proteksionisme teknologi dan serangan langsung terhadap salah satu perusahaan teknologi terbaiknya. Hal ini hampir pasti akan memicu balasan, mungkin berupa pembatasan ekspor bahan baku penting atau teknologi lain ke AS.

Baca Juga

  • Pertumbuhan Pasar Smartphone Global: HONOR Melesat di Tengah Krisis
  • Larangan Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun Jadi Tren Global

Advertisement

Keputusan ini akan memperkeruh suasana perang dagang yang sudah tegang, dan memperkuat narasi bahwa AS berusaha menghambat kemajuan teknologi China.

3. Perlombaan Menciptakan Alternatif Drone AS

Di sisi positif, larangan ini akan memaksa AS untuk berinvestasi besar-besaran dalam industri drone domestik. Keputusan ini akan memicu “perlombaan angkasa” mini untuk menciptakan teknologi drone yang sepenuhnya aman, teruji, dan diproduksi di AS.

Pemerintah AS telah berupaya mendorong program “Blue sUAS” yang bertujuan menyediakan drone aman buatan dalam negeri. Namun, upaya ini masih membutuhkan waktu lama untuk menandingi efisiensi dan harga yang ditawarkan oleh DJI.

Baca Juga

  • GPU Lisuan 7G100 China Rilis 20 Mei, Saingan RTX 4060 Murah
  • Perkawinan silang manusia purba Terungkap Lewat Fosil Anak Israel

Advertisement

Menilik Masa Depan Industri Drone Pasca Keputusan AS

Terlepas dari kekhawatiran yang ada, para ahli menyarankan bahwa jalan tengah mungkin adalah solusi terbaik untuk menyelesaikan Konflik penggunaan drone DJI yang pelik ini.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menerapkan pembatasan ketat daripada larangan total. Misalnya, mewajibkan penggunaan mode “lokal data” atau “offline mode” yang menjamin bahwa data penerbangan tidak pernah meninggalkan perangkat di lapangan, terutama untuk misi sensitif.

Model ini memungkinkan lembaga publik untuk tetap memanfaatkan teknologi efisien DJI, sambil memitigasi risiko keamanan nasional. Namun, implementasinya membutuhkan pengawasan ketat dan kerja sama yang sulit antara regulator AS dan perusahaan China.

Baca Juga

  • Tanda WhatsApp Disadap Jarak Jauh dan Cara Menghentikannya
  • Gerakan Perlawanan Anti-AI Global: Teror dan Protes Meluas

Advertisement

Keputusan yang diambil oleh AS pada tenggat waktu tersebut akan menjadi preseden penting tidak hanya bagi DJI, tetapi juga bagi semua perusahaan teknologi global yang beroperasi di pasar AS.

Tentu saja, yang menjadi pertaruhan terbesar adalah keseimbangan antara menjaga keamanan nasional dari potensi Drone China ancaman keamanan AS dan memastikan bahwa petugas di lapangan memiliki alat terbaik untuk melindungi masyarakat sipil.

Intinya, teknologi drone sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi sekadar kemewahan. Dan dilema yang dihadapi AS mencerminkan kompleksitas dunia modern di mana kemajuan teknologi seringkali datang dengan risiko geopolitik yang tak terhindarkan.

Baca Juga

  • Spesies Manusia Purba Baru Homo Juluensis Ditemukan di China
  • Gunung Berapi Erebus Antartika Muntahkan Debu Emas Tiap Hari

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
DJI Drone Keamanan Nasional AS Perang Dagang AS-China Teknologi
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleSamsung Galaxy Tab A11 Resmi Meluncur: 5 Keunggulan Tablet 8 Inci Murah
Next Article 4 Bangunan Terlihat dari Luar Angkasa, Tembok China Mitos!
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Samsung Galaxy Tab A9 Plus: Tablet Murah untuk Belajar

Olin Sianturi9 Mei 2026 | 10:55

Dampak Larangan Teknologi China di Uni Eropa: Rugi Rp 6.900 T

Iphan S9 Mei 2026 | 09:55

Jejak Gempa Besar Gunung Ciremai Ditemukan Peneliti BRIN

Ana Octarin9 Mei 2026 | 04:55

Bisnis TV Samsung di China Terpuruk, Rugi Rp2,3 Triliun

Ana Octarin8 Mei 2026 | 23:55

Kapasitas Produksi Fiber Optik AI Melonjak: Nvidia Gandeng Corning

Ana Octarin8 Mei 2026 | 18:55

PHK Sepihak Akibat Tolak Acara Kantor, Perusahaan Kalah di Pengadilan

Iphan S8 Mei 2026 | 13:55
Pilihan Redaksi
Otomotif

Harga BBM Diesel Primus Plus Tembus Rp30.890 di SPBU Vivo

Ana Octarin4 Mei 2026 | 00:55

Harga BBM Diesel Primus Plus resmi mengalami lonjakan drastis di seluruh jaringan Stasiun Pengisian Bahan…

Desain layar iPhone masa depan bocor, Apple gandeng Samsung

7 Mei 2026 | 07:55

Sejarah pengobatan herbal Indonesia: Kisah Dokter Jerman Berguru pada Dukun

2 Mei 2026 | 23:55

Jadwal Rilis GTA 6 PC Masih Misteri, Rockstar Fokus ke Konsol

8 Mei 2026 | 15:55

Paket Roaming Haji Indosat 2026: Daftar Harga IM3 dan Tri

6 Mei 2026 | 07:55
Terbaru

Samsung Galaxy Tab A9 Plus: Tablet Murah untuk Belajar

Olin Sianturi9 Mei 2026 | 10:55

Dampak Larangan Teknologi China di Uni Eropa: Rugi Rp 6.900 T

Iphan S9 Mei 2026 | 09:55

Jejak Gempa Besar Gunung Ciremai Ditemukan Peneliti BRIN

Ana Octarin9 Mei 2026 | 04:55

Bisnis TV Samsung di China Terpuruk, Rugi Rp2,3 Triliun

Ana Octarin8 Mei 2026 | 23:55

Kapasitas Produksi Fiber Optik AI Melonjak: Nvidia Gandeng Corning

Ana Octarin8 Mei 2026 | 18:55
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.