Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27

HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa

3 Juni 2026 | 05:22
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar
  • HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?
  • Komunitas Supermoto Makassar Jelajahi Wisata Ikonik Sulsel
  • Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI
  • HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan
  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
Selasa, Juni 9
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » 5 Fakta Terbaru Masalah Temu di Eropa: Raja Ecommerce China Diperiksa Jerman
Berita Tekno

5 Fakta Terbaru Masalah Temu di Eropa: Raja Ecommerce China Diperiksa Jerman

Olin SianturiOlin Sianturi11 Oktober 2025 | 07:08
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Masalah Temu di Eropa, Raja Ecommerce China
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Setelah diblokir di RI, Masalah Temu di Eropa kian panas. Raja Ecommerce China ini diselidiki Jerman terkait harga tak wajar. Simak 5 poin penting kasus ini!

Kabar kurang menyenangkan kembali datang dari Temu, raksasa e-commerce asal China. Setelah sempat menutup operasinya di Indonesia, perusahaan yang terkenal dengan harga super murah ini kini harus menghadapi tantangan serius di pasar benua biru.

Pihak berwenang Eropa, khususnya Jerman, sedang melakukan penyelidikan mendalam terkait praktik bisnis Temu. Penyelidikan ini berfokus pada dua isu krusial: perlakuan terhadap para pedagang dan penetapan harga yang diduga tidak wajar.

Baca Juga

  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Advertisement

Situasi ini menarik perhatian global, mengingat Temu telah menjadi fenomena besar yang berhasil menarik lebih dari 100 juta pengguna di pasar Eropa setiap bulannya. Lantas, mengapa Raja Ecommerce China ini terus menuai kontroversi?

Mengapa Raja Ecommerce China Ini Terus Dihadang?

Temu, yang merupakan bagian dari PDD Holdings—perusahaan induk yang sama dengan Pinduoduo—memasuki pasar global dengan strategi ‘harga yang tak terkalahkan’. Strategi ini membuatnya cepat populer, namun juga memicu kekhawatiran dari regulator dan kompetitor lokal.

Model bisnis Temu melibatkan pengiriman produk langsung dari pabrikan China ke konsumen di seluruh dunia. Walaupun efisien, model ini sering kali dipertanyakan mengenai dampaknya terhadap persaingan usaha yang adil.

Baca Juga

  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
  • Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Advertisement

Bagi regulator, fokus utama adalah memastikan bahwa strategi penetapan harga global tidak digunakan untuk menghancurkan pasar lokal. Jika praktik ini terbukti, hal tersebut bisa dikategorikan sebagai praktik anti-persaingan.

Kilas Balik: Temu Sempat Gagal Total di Indonesia

Sebelum menghadapi tantangan hukum di Eropa, Temu telah lebih dulu memutuskan untuk mundur dari pasar Indonesia. Meskipun penetrasi pasar di Indonesia adalah target yang menggiurkan, Temu hanya bertahan sebentar.

Temu memulai operasinya di Indonesia pada akhir tahun 2023. Namun, pada Juli 2024, operasionalnya resmi dihentikan. Hal ini terjadi setelah perusahaan tersebut menerima tekanan besar dari berbagai pihak, termasuk asosiasi UMKM lokal.

Baca Juga

  • Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!
  • Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik

Advertisement

Alasan utamanya adalah kekhawatiran bahwa Temu, dengan model bisnisnya yang menjual langsung dari produsen ke konsumen, dapat mengancam keberlangsungan usaha mikro dan kecil (UMKM) di Indonesia. Tekanan ini menunjukkan sensitivitas pasar lokal terhadap invasi e-commerce global yang sangat agresif.

Panasnya Penyelidikan Kartel Jerman Terkait Masalah Temu di Eropa

Penyelidikan terbaru yang dilakukan oleh kantor kartel federal Jerman (Bundeskartellamt) menunjukkan betapa seriusnya pandangan Eropa terhadap operasional Temu. Presiden Bundeskartellamt, Andreas Mundt, menggarisbawahi pentingnya melindungi kondisi persaingan pasar.

Mundt menyatakan bahwa dengan basis pengguna lebih dari 100 juta di Eropa, Temu memiliki pengaruh yang signifikan. Oleh karena itu, semua dugaan mengenai praktik bisnis yang merugikan harus diselidiki tuntas.

Baca Juga

  • Pekerja Penutup Pintu Taksi Otonom Raup Ratusan Ribu
  • Penyebab Manusia Jarang Kidal Menurut Penelitian Terbaru

Advertisement

Penyelidikan ini bertujuan mencari bukti apakah Temu menggunakan posisi dominannya untuk mendikte pasar. Jika terbukti melanggar undang-undang persaingan, sanksi besar bisa menanti platform belanja digital tersebut.

3 Tuduhan Utama yang Dihadapi Temu di Eropa

Ada beberapa poin utama yang menjadi fokus penyelidikan terkait Masalah Temu di Eropa. Tuduhan ini berkaitan erat dengan cara Temu berinteraksi dengan penjual dan bagaimana mereka menyajikan harga kepada konsumen.

Berikut adalah tiga tuduhan utama yang sedang diperiksa oleh otoritas Jerman:

Baca Juga

  • Penyelundupan Chip AI Nvidia ke China Diselidiki Taiwan
  • Krisis Chip Smartphone Global Bikin Penjualan HP Anjlok

Advertisement

  • Penetapan Harga yang Tidak Wajar: Temu diduga menetapkan harga minimum atau harga yang sangat rendah secara tidak wajar di pasar Jerman. Hal ini dapat memaksa pedagang lain untuk mengikuti harga yang merugikan, atau bahkan membuat mereka keluar dari pasar.
  • Perlakuan Buruk terhadap Pedagang: Terdapat dugaan bahwa Temu menerapkan syarat dan ketentuan yang memberatkan atau tidak adil bagi para pedagang yang menggunakan platform mereka untuk menjual produk.
  • Ancaman Persaingan Usaha: Jika Temu secara sistematis menawarkan harga di bawah biaya produksi (predatory pricing), ini dapat menimbulkan ancaman serius terhadap persaingan usaha yang sehat dan jangka panjang.

Bagi otoritas Eropa, menjaga keragaman dan kesehatan ekosistem bisnis adalah prioritas. Praktik yang dapat memonopoli pasar dengan harga yang terlalu agresif harus dihindari.

Ancaman Bagi Persaingan Usaha dan Kenaikan Harga Jangka Panjang

Meskipun konsumen mungkin senang dengan harga yang sangat murah yang ditawarkan oleh Temu, regulator melihat potensi bahaya yang lebih besar di masa depan. Praktik penetapan harga yang agresif dapat membawa dampak ganda yang merugikan.

Dalam jangka pendek, harga memang turun. Namun, jika semua pesaing lokal tersingkir karena tidak mampu bersaing, Temu bisa mendapatkan kekuatan pasar yang luar biasa. Ketika ini terjadi, tidak ada lagi yang bisa menekan harga.

Baca Juga

  • Cara Cetak Kartu Keluarga Online Tanpa Antre di Dukcapil
  • Sistem Peringatan Dini Gempa: Rahasia Jepang Hadapi Bencana

Advertisement

Menurut Andreas Mundt, jika dugaan ini benar, dampaknya bisa berupa kenaikan harga pada kanal belanja lain. “Ini dapat mengakibatkan berkurangnya pilihan bagi konsumen dan akhirnya kenaikan harga di masa depan,” ujarnya, menekankan kekhawatiran regulator.

Oleh karena itu, penyelidikan terhadap Raja Ecommerce China ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan upaya melindungi struktur pasar ekonomi Eropa dari dominasi tunggal.

Strategi Bisnis Global Temu yang Berisiko Tinggi

Model bisnis Temu didasarkan pada skala dan efisiensi rantai pasok. Mereka berinvestasi besar-besaran dalam pemasaran dan logistik untuk menjamin harga yang sangat kompetitif.

Baca Juga

  • Membuat Solar dari Sampah: Inovasi BRIN Atasi Plastik
  • Ekspor Chip Canggih AS Diperketat, Washington Tambal Celah Bocor ke China

Advertisement

Namun, risiko yang melekat pada model ini adalah potensi konflik dengan regulasi anti-monopoli di berbagai negara. Strategi “masuk dengan harga termurah” sangat efektif untuk akuisisi pengguna, tetapi sering kali dianggap tidak berkelanjutan atau tidak adil dalam jangka panjang.

Perusahaan e-commerce lainnya, termasuk Amazon, juga pernah menghadapi tantangan serupa di Eropa terkait dugaan penyalahgunaan data pedagang dan praktik persaingan yang tidak adil. Ini menunjukkan bahwa regulasi Eropa semakin ketat terhadap platform digital raksasa.

Penyelesaian dari kasus Masalah Temu di Eropa ini akan menjadi tolok ukur penting bagi bagaimana perusahaan digital Asia dapat beroperasi di pasar Barat yang sangat diatur.

Baca Juga

  • Pasar CPU Nvidia Vera Jadi Senjata Baru Kuasai AI
  • Ambisi Chip Canggih Huawei Bikin AS Kena Senjata Makan Tuan

Advertisement

Kesimpulan

Dari blokade di Indonesia hingga penyelidikan kartel di Jerman, Temu terus berada di bawah pengawasan ketat. Perjuangan Raja Ecommerce China ini menyoroti perdebatan global mengenai bagaimana perusahaan digital raksasa harus diatur.

Bagi konsumen, ini adalah pengingat bahwa harga murah hari ini mungkin memiliki konsekuensi besar terhadap persaingan pasar di masa depan. Bagi Temu, tantangan di Eropa menuntut adaptasi serius terhadap standar persaingan yang lebih ketat.

Kita tunggu saja bagaimana hasil penyelidikan Bundeskartellamt akan memengaruhi nasib Temu di salah satu pasar konsumen terbesar di dunia ini.

Baca Juga

  • Pendapatan dari Konten Pertanian Melebihi Hasil Kebun
  • PHK Karyawan Standard Chartered: Dampak AI di Sektor Finansial

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Aplikasi belanja Ecommerce China Jerman Pinduoduo Temu
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous Article4 Langkah Cara Lacak Lokasi Google Maps Teman dengan Nomor HP
Next Article 5 Fakta Skandal Diskon Palsu: Denda E-Commerce Terbesar Triliunan!
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37

Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik

Ana Octarin2 Juni 2026 | 16:37
Pilihan Redaksi
Aplikasi

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

Persaingan di dunia konten digital semakin memanas. Khususnya di TikTok, platform video pendek yang kini…

HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan

3 Juni 2026 | 02:22

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27

HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa

3 Juni 2026 | 05:22
Terbaru

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.