Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Xiaomi Mini LED Gaming Monitor G Pro 27Qi Meluncur: 2000 Nits!

5 Februari 2026 | 04:50

Perbandingan Xiaomi 17 Ultra vs Pixel 10 Pro XL: Duel Flagship 2026

5 Februari 2026 | 04:49

Ayaneo Pocket Play Ditenagai Dimensity 9300: Konsol Handheld Gaming Terbaik?

5 Februari 2026 | 04:20
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Xiaomi Mini LED Gaming Monitor G Pro 27Qi Meluncur: 2000 Nits!
  • Perbandingan Xiaomi 17 Ultra vs Pixel 10 Pro XL: Duel Flagship 2026
  • Ayaneo Pocket Play Ditenagai Dimensity 9300: Konsol Handheld Gaming Terbaik?
  • Perpres Kendaraan Listrik: Memicu Lonjakan Penjualan dan Investasi Otomotif
  • Vivo X200 Ultra vs X100 Ultra: Perbandingan Flagship Terbaik
  • Xiaomi Pad 8 Pro Global: Spesifikasi Lengkap, Chipset Snapdragon 8 Elite
  • Samsung Galaxy A16 5G Jadi Ponsel Android Terlaris 2025
  • Mobil Listrik Suzuki eVitara Siap Dijual di IIMS 2026 Tanpa Insentif
Kamis, Februari 5
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » 710.000 Tahun Mati, 3 Tanda Gunung Berapi Taftan Purba Bangkit!
Berita Tekno

710.000 Tahun Mati, 3 Tanda Gunung Berapi Taftan Purba Bangkit!

Olin SianturiOlin Sianturi22 Desember 2025 | 02:27
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Gunung Berapi Taftan Purba, Kebangkitan Gunung Berapi
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Ilmuwan waspada! Setelah 710.000 tahun tidur, Gunung Berapi Taftan Purba di Iran menunjukkan aktivitas. Apa 3 tanda kebangkitan yang terdeteksi? Baca analisisnya!

Dunia geologi kembali dikejutkan oleh temuan yang memicu alarm kewaspadaan. Sebuah gunung berapi yang diperkirakan telah ‘mati’ selama lebih dari 700 ribu tahun tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Peristiwa ini terjadi di Iran, melibatkan Gunung Taftan yang memiliki sejarah vulkanik yang sangat panjang.

Kebangkitan sebuah gunung berapi purba bukan hanya fenomena geologi yang menarik, tetapi juga ancaman potensi bencana. Para ahli vulkanologi kini bekerja keras memantau setiap pergerakan yang terjadi, mengingat status Taftan yang telah lama dianggap aman.

Baca Juga

  • Bocoran 4 Sensor Kamera Spesifikasi Kamera Oppo Find X9 Ultra
  • 5 Perbaikan Kritis HyperOS Terbaru: Bug Kamera & Layar Xiaomi/Redmi Tuntas

Advertisement

Lantas, apa yang membuat aktivitas ini terdeteksi sekarang? Dan seberapa besar ancaman dari kebangkitan salah satu Gunung Berapi Taftan Purba ini?

Lonceng Peringatan: Kebangkitan Gunung Berapi Taftan Purba

Gunung Taftan terletak di Provinsi Sistan dan Baluchestan, Iran, dekat perbatasan dengan Pakistan. Secara geografis, ia merupakan bagian dari zona vulkanik yang kompleks di kawasan Timur Tengah. Selama rentang waktu yang luar biasa panjang—yakni sekitar 710.000 tahun—Taftan dianggap tidak aktif.

Dalam istilah vulkanologi, gunung berapi yang tidak meletus dalam 10.000 tahun dikategorikan sebagai ‘dormant’ (tidur), sementara yang tidak menunjukkan tanda-tanda aktivitas sama sekali selama ratusan ribu tahun seringkali diasumsikan mendekati ‘extinct’ (punah).

Baca Juga

  • 5 Strategi Kunci Pembangunan Pemerintahan Digital RI
  • 3 Penemuan Ilmiah Terbaru Ungkap Cara Nabi Musa Membelah Laut Merah

Advertisement

Oleh karena itu, pendeteksian pergerakan magma atau aktivitas seismik di perut Taftan adalah peristiwa yang langka dan sangat signifikan. Para ilmuwan menggunakan teknologi pemantauan satelit dan sensor canggih untuk mengukur perubahan suhu, emisi gas, dan deformasi tanah di wilayah tersebut.

Fakta 710.000 tahun ini benar-benar menempatkan Taftan dalam kategori fenomena geologi yang paling ekstrem. Ini menunjukkan bahwa kekuatan geologi di bawah kerak bumi jauh lebih dinamis daripada yang selama ini diperkirakan pada zona tersebut.

Mengapa Interval 710.000 Tahun Adalah Angka yang Menakutkan?

Bagi kebanyakan orang, gunung berapi yang sudah lama tidak meletus terasa aman. Namun, dalam ilmu vulkanologi, periode tidur yang sangat panjang seringkali menyimpan potensi bahaya yang lebih besar. Mengapa demikian?

Baca Juga

  • 3 Negara Larang Akses Media Sosial Remaja: Intip Aturan Baru Prancis 2026
  • 5 Pemandangan Miris Saat Astronaut Lihat Bumi, Efek Pemanasan Global Terlihat Jelas

Advertisement

Semakin lama sebuah gunung berapi tertidur, semakin banyak energi dan tekanan yang dapat terakumulasi di bawahnya. Ketika magma mulai naik setelah jeda yang sangat panjang, ia harus menembus material kerak bumi yang mungkin sudah mengeras dan padat.

Proses ini memerlukan tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan gunung berapi yang aktif secara rutin. Hasilnya, jika terjadi erupsi, letusan dari gunung berapi yang bangkit setelah periode purba dapat menjadi sangat eksplosif dan merusak.

Selain itu, infrastruktur dan populasi di sekitar Taftan mungkin tidak siap menghadapi ancaman ini, karena generasi-generasi sebelumnya hidup dengan asumsi bahwa gunung tersebut hanyalah pegunungan biasa.

Baca Juga

  • 3 Fakta Mengerikan: NASA Peringatkan Ancaman Kiamat Iklim Jakarta
  • 5 Fakta Ngeri Peta Bahaya Gempa Indonesia 2024: 14 Zona Megathrust Baru

Advertisement

3 Tanda Utama Kebangkitan Gunung Berapi yang Membuat Ilmuwan Waspada

Mendeteksi Kebangkitan Gunung Berapi seperti Taftan memerlukan analisis data multisensor yang intensif. Meskipun detail spesifik dari temuan terbaru di Iran bersifat teknis, secara umum, para ilmuwan memfokuskan perhatian pada tiga indikator utama yang menunjukkan bahwa magma di bawah kerak bumi mulai bergerak.

Ketiga tanda ini adalah kunci untuk memahami potensi ancaman dari Gunung Berapi Taftan Purba saat ini:

  • Peningkatan Aktivitas Seismik (Gempa Vulkanik): Tanda paling jelas dari magma yang naik adalah serangkaian gempa bumi kecil yang terjadi tepat di bawah gunung. Gempa-gempa ini, yang sering disebut seismic swarm, disebabkan oleh retaknya batuan saat magma memaksakan jalannya ke atas. Peningkatan frekuensi dan kedalaman gempa vulkanik adalah sinyal bahaya paling awal.
  • Emisi Gas dan Perubahan Kimia: Gunung berapi mengeluarkan gas seperti sulfur dioksida (SO2) dan karbon dioksida (CO2). Peningkatan signifikan dalam volume emisi gas, atau perubahan dalam rasio kimia gas-gas tersebut, menunjukkan bahwa magma baru yang kaya gas sedang mendekati permukaan. Bahkan perubahan kecil pada ventilasi termal bisa menjadi indikator besar.
  • Deformasi Tanah (Penggelembungan): Ketika kantong magma di bawah tanah terisi atau bergerak ke atas, ia menyebabkan permukaan tanah di atasnya menggembung atau miring. Ilmuwan menggunakan teknologi GPS presisi tinggi dan data satelit (seperti Interferometric Synthetic Aperture Radar atau InSAR) untuk mendeteksi kenaikan permukaan tanah, bahkan hanya beberapa sentimeter. Deformasi adalah bukti fisik bahwa ada tekanan besar yang menumpuk.

Data terbaru menunjukkan bahwa setidaknya satu atau lebih dari indikator ini telah melampaui ambang batas normal di sekitar Taftan, memicu peringatan merah di kalangan vulkanolog internasional.

Baca Juga

  • 7 Bahaya Besar! Ancaman PHK Massal 2026 Diprediksi Bapak AI
  • 3 Fakta Mengejutkan Soal Data Pribadi Warga RI Ditukar Tarif Impor AS 19%

Advertisement

Bagaimana Teknologi Membantu Memantau Gunung Berapi Purba?

Keberhasilan mendeteksi aktivitas Taftan setelah ribuan tahun tidak lepas dari kemajuan teknologi. Saat ini, pemantauan tidak lagi hanya mengandalkan seismograf di darat.

Satelit modern dilengkapi dengan sensor termal yang sangat sensitif, mampu mendeteksi peningkatan suhu permukaan yang sangat kecil—sebuah tanda bahwa energi panas dari magma mulai merambat keluar. Selain itu, sistem pemantauan global kini memungkinkan pertukaran data secara cepat, sehingga para ahli di seluruh dunia dapat menganalisis potensi ancaman secara kolektif.

Sistem peringatan dini ini sangat krusial, terutama untuk gunung berapi yang lama terabaikan seperti Taftan, yang minim riwayat erupsi modern.

Baca Juga

  • 5 Bocoran Heboh Spesifikasi Realme Neo8 Infinite: Layar Realme Neo8 165Hz!
  • 7 Fakta Ilmiah Kenapa Benua Afrika Terbelah Dua dan Samudra Baru Muncul

Advertisement

Implikasi Lokal dan Potensi Dampak Global

Kebangkitan Gunung Berapi Taftan Purba membawa implikasi serius, baik secara lokal maupun potensi global. Secara lokal, wilayah Iran Tenggara dan Pakistan Barat Daya menghadapi risiko letusan eksplosif, aliran piroklastik, dan hujan abu yang masif.

Dampak terburuk mungkin adalah gangguan terhadap infrastruktur, pertanian, dan kehidupan masyarakat yang telah lama tinggal di kaki gunung tanpa memikirkan ancaman vulkanik.

Dari sudut pandang global, letusan besar dari gunung berapi mana pun dapat memengaruhi iklim. Meskipun kecil kemungkinannya mencapai level supervolcano, emisi abu dan aerosol sulfur dalam jumlah besar ke stratosfer dapat memicu pendinginan sementara di seluruh planet, mengganggu pola cuaca dan penerbangan internasional.

Baca Juga

  • Fakta 1 Penemuan Botol Palung Mariana: Sampah Terdalam Dunia 10,7 KM
  • 5 Fakta Pemulihan Jaringan Telkomsel Aceh dan Paket Gratis Diteruskan

Advertisement

Tindakan Mitigasi dan Kesiapan Wilayah Terdampak

Menanggapi sinyal bahaya dari Kebangkitan Gunung Berapi ini, pemerintah Iran dan badan pemantau internasional telah meningkatkan pengawasan. Langkah-langkah yang diambil meliputi:

  • Pemasangan lebih banyak sensor seismik dan GPS di area sekitar Taftan.
  • Pengambilan sampel gas secara rutin untuk memonitor komposisi kimia fumarol.
  • Pembuatan peta risiko dan jalur evakuasi terbaru untuk masyarakat di sesekitar gunung.

Saat ini, tujuan utama para ilmuwan adalah menentukan apakah aktivitas yang terdeteksi merupakan episode “intrusi” magma (magma naik tetapi tidak mencapai permukaan) yang akan mereda, atau apakah ini adalah awal dari siklus erupsi baru setelah ribuan abad.

Memahami perbedaan ini adalah kunci untuk memberikan peringatan yang tepat dan menghindari kepanikan massal yang tidak perlu, sekaligus memastikan keselamatan publik.

Baca Juga

  • 4 Cara Ampuh Lindungi Anak dari Bahaya Radikalisme Media Sosial
  • 7 Alasan Samsung Pilih Pameran Mandiri di CES 2024

Advertisement

Kesimpulan: Belajar dari Gunung Berapi yang Tidak Pernah Mati

Kebangkitan Gunung Berapi Taftan Purba adalah pengingat kuat bahwa dalam skala waktu geologi, istilah “punah” hampir tidak pernah berlaku untuk fenomena alam sebesar gunung berapi. Peristiwa ini menyoroti pentingnya investasi berkelanjutan dalam vulkanologi dan teknologi pemantauan jarak jauh.

Sementara kita menunggu analisis data lebih lanjut, kewaspadaan adalah kunci. Kisah Taftan membuktikan bahwa potensi bencana dapat bersembunyi di balik ketenangan yang telah berlangsung selama 710.000 tahun.

Para ahli akan terus memantau ketiga tanda utama kebangkitan tersebut, memastikan bahwa dunia siap menghadapi babak baru dalam sejarah geologi Gunung Taftan.

Baca Juga

  • 5 Seri Ponsel Xiaomi Global Ini Hilang dari Toko pada 2026!
  • Bocoran 6 Spesifikasi OnePlus Turbo 6 & Turbo 6V: Debut 8 Januari!

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia_id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Bencana Alam Gunung Berapi Taftan Ilmu Pengetahuan Kebangkitan Gunung Berapi Vulkanologi
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous Article5 Alasan Utama Teknologi Sidik Jari LCD Redmi Note 8 Pro Menghilang
Next Article 4 Teori Ilmiah Posisi Bulan Pengaruhi Penyebab Tenggelamnya Titanic
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Waspada! 5 Fakta Ancaman Gempa Megathrust Dahsyat di Jawa-Sumatra

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 22:00

Bocoran 4 Sensor Kamera Spesifikasi Kamera Oppo Find X9 Ultra

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 10:00

5 Perbaikan Kritis HyperOS Terbaru: Bug Kamera & Layar Xiaomi/Redmi Tuntas

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 08:00

5 Strategi Kunci Pembangunan Pemerintahan Digital RI

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 02:00

3 Penemuan Ilmiah Terbaru Ungkap Cara Nabi Musa Membelah Laut Merah

Olin Sianturi4 Januari 2026 | 20:00

3 Negara Larang Akses Media Sosial Remaja: Intip Aturan Baru Prancis 2026

Olin Sianturi3 Januari 2026 | 06:00
Pilihan Redaksi
Gadget

Raja Terbaru Smartphone Dunia: Bukan HP China, Apple Kembali Dinobatkan di 2025!

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 01:14

Persaingan di pasar ponsel pintar global selalu memanas, namun laporan terbaru menunjukkan adanya pergeseran signifikan…

Harga dan Spesifikasi Redmi Note 15 Series: HP Tahan Banting Gen Z

1 Februari 2026 | 14:48

Rekomendasi HP Kamera 50MP Murah Januari 2026, Mulai Rp1 Jutaan

19 Januari 2026 | 01:57

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

1 Februari 2026 | 00:59

JVC HA-A110T Nirkabel ANC: Ulasan Fitur, Baterai 44 Jam dan Harga

3 Februari 2026 | 02:16
Terbaru

Waspada! 5 Fakta Ancaman Gempa Megathrust Dahsyat di Jawa-Sumatra

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 22:00

Bocoran 4 Sensor Kamera Spesifikasi Kamera Oppo Find X9 Ultra

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 10:00

5 Perbaikan Kritis HyperOS Terbaru: Bug Kamera & Layar Xiaomi/Redmi Tuntas

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 08:00

5 Strategi Kunci Pembangunan Pemerintahan Digital RI

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 02:00

3 Penemuan Ilmiah Terbaru Ungkap Cara Nabi Musa Membelah Laut Merah

Olin Sianturi4 Januari 2026 | 20:00
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.